Kecerdasan emosi adalah saat dimana anda mampu meningkatkan motivasi dari waktu ke waktu, lebih baik dan lebih baik lagi. Memotivasi diri dalam memulai segala sesuatu dan menerapkan hal-hal yang telah anda pelajari adalah satu hal yang penting. Motivasi diri adalah kemampuan menyalurkan emosi dan menguasai diri untuk bisa mencapai sebuah tujuan tertentu.http://gemintang.com/kisah-sukses-motivasi-inspirasi/waspada-emosi-saat-bekerja/
2012-09-23
2012-07-01
Remaja Dan Cinta
Remaja dapat dikatakan sebagai suatu fase perkembangan seseorang menjadi lebih dewasa. Baik secara mental, emosional, maupun fisik. Masa remaja berlangsung ketika kita memasuki usia 12-22 tahun. Begitu banyak hal yang dapat dilakukan selama fase ini. Sisi keingintahuan mereka sangatlah besar. Keberanian untuk mencoba hal-hal baru dan melakukan berbagai tindakan yang mungkin terkadang bertentangan sekalipun.
Dalam fase ini, hendaknya para orangtua berperan aktif untuk mengawasi putra putrinya. Karena tidak sedikit dampak dari kenakalan remaja itu telah menghancurkan masa depan mereka sendiri. Mereka bukanlah anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi bukan juga orang dewasa yang mengerti segalanya dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Cerita remaja pun tak luput dari urusan cinta. Mereka yang mengistilahkannya sebagai masa Pubertas, mulai menyimpan rasa suka terhadap lawan jenisnya. Banyak yang bilang, kalau ini disebut Cinta Monyet. Kenapa? Karena remaja hanya mengenal lalu menikmatinya. Mengenal bagaimana perasaan seperti itu tumbuh dan harus bagaimana terhadap perasaannya.
Lalu bagaimana mereka mengisi hari-harinya dengan cinta? Makan siang bersama. Mengantarkan pasangannya pulang kerumah sembari berbincang ria selama diperjalanan. Atau saling memberi hadiah ketika ulang tahun tiba. Indah bukan?
Mungkin akan ada saat dimana kita merasa bosan. Maka janganlah kamu melakukan hal yang sama dalam setiap harinya. Memiliki pasangan bukan berarti kamu melupakan teman ataupun keluargamu hanya demi pasanganmu. Menceritakan apa yang kita rasakan kepada orang terdekat akan cukup membantu. Mungkin mereka akan memberikan jalan keluar untuk masalah kamu dan pasanganmu. Ajak juga pasanganmu untuk mengenal teman-temanmu. Karena akan terasa lebih indah saat ada banyak orang disekeliling kita.
Namun sesuatu hal apapun itu, tentu ada sisi negative dan positivenya. Mari kita ambil hal baiknya, Cinta yang dirasakan oleh para remaja ini terbilang baik ketika cinta itu adalah penyemangat bagi mereka. Ketika cinta itu adalah kekuatan baginya. Berusaha untuk selalu menjaga pasangannya secara tidak langsung mereka telah belajar bagaimana cara menyayangi dan memperhatikan orang lain.
Dilirik dari sisi negative, cinta tak selamanya manis. Ada saat dimana kita bertemu dan saat dimana kita harus berpisah. Dalam fase ini, mungkin mereka akan terlihat lebih malas, mungkin juga murung, atau bahkan prestasi menurun? Bisa saja, karena mereka pun bisa merasakan sakit. Tapi inilah cinta. Kita belajar beribu perasaan karenanya.
Tapi kita tidak akan menjadi dewasa jika kita tidak melewati fase ini.
Cara Mudah Menguji IQ
Pengertian IQ
IQ (Intelligence quotient) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kamu untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kamu tinggi, kamu memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.
2012-04-29
MAX 5-Aku Tau
Ku lihat dirimu tersenyum kepadaku
Ku rasakan getaran yang kau tujukan padaku
Ku balas senyummu kau pun malu
Dan kita saling tersipu
Aku tau kamu mau
Kamu ingin berkenalan denganku
Bilang saja kamu suka
Aku pun suka kepadamu.Tetapi ternyata pacarmu melihatnya
Bagaimana kalau kita bertemu dilain waktu
Katakan padaku kau setuju
Dan kita saling jatuh cinta
Aku tau kamu mau (kamu mau)
Kamu ingin berkenalan denganku
Bilang saja kamu suka
Aku pun suka kepadamu
[reff]
Aku tau kau suka kepadaku
Dari awal bertemu ku telah jatuh cinta
Bilang saja kalau kalau kau mau
Kini kamu buat aku buatku mabuk asmara
Aku tau kamu mau
Kamu ingin berkenalan denganku
Bilang saja (bilang saja) kamu suka
Aku pun suka kepadamu
Aku tau kamu mau
Kamu ingin berkenalan denganku
Bilang saja (bilang saja) kamu suka (kamu suka)
Aku pun suka kepadamu (kepadamu)
Kepadamu, kepadamu, oh kepadamu
2012-03-15
Gerimis Tak Berhenti
Gerimis tak berhenti juga, ditambah dengan Tari yang sejak pulang dari sekolah tadi tak keluar-keluar dari kamarnya. Padahal jam dinding hadiah dari temannya sudah menunjukkan pukul 17.15. Itu berarti adzan magrib semakin dekat.
Tari kembali melirik buku bututnya. Aduh! Susahnya, ia membanting napas kesal isi buku yang dibacanya dari tadi belum masuk juga ke otaknya. Karena capek, ia selonjoran di kasur bunga mawarnya itu. Tapi ia malah teringat oleh mantannya. Ditariknya foto tu dari dompetnya. Huh, seandainya! Adu, dia melulu. Malas ah!
Ia sekejap langsung menyembunyikan benda kenangannya dengan Audra itu di dompetnya. Bodohnya aku! Cewek berambut panjang hitam itu mengeluh, namun penyesalan yang menginjak-nginjak batinnya nggak pergi-pergi juga. Iih, Tari menggumam. Kenapa aku dulu menyia-nyiakannya,ya? Ga dewasa, kurang bersyukur? Atau, dia yang terlalu seperti anak kecil?
Kenangan itu masih tertempel di otak Tari, saat sosok yang dikenangnya itu memberikan surat kepadanya. Surat yang isinya mengajak Tari putus dengannya. Memang sosok Audra yang seperti anak kecil, pemalu, pintar, berkulit cokelat, wajahnya yang bersih, dan bertubuh tinggi itu bukan termasuk tipe Tari. Tapi ia sulit untuk memutuskan putus atau tidak pada saat itu. Selama ini semenjak putus dengan Audra, ia sering berkhayal, berkhayal seandainya ia bisa lebih berpikir dewasa lagi. Namun yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi.
Daripada ia teringat dengan kekerasan bapaknya, ia mending terlintas kenangannya dengan Audra. Plak!! Batin Tari tergoncang, tamparan bapaknya ke bundanya itu sampai menggerakkan gendang telinganya. Bapak, Bapak! Cukup! Tari berlari menangis. Tak heran kalau Tari terkadang berdiam diri di kelasnya. Wajah gelisahnya membuat dirinya penuh dengan misteri. Tapi sesungguhnya ia termasuk perempuan sabar dan kuat karena ia dapat bertahan dengan kondisin keluarga seperti itu.
Tet tet tet! Bunyi bel sekolah Tari berdenting, yang menandakan jam istirahat telah usai. Namun Tari masih tetap duduk terenung di bangkunya sampai Yanti sobatnya itu membangunkannya dari lamunannya.
“Tar!”
“Ei, kowe kok ngelamun aja toh?”
“Iya nih, lagi pusing aku.”
“Ooo, makanya kowe kok nggak sholat dhuha, biasanya kowekan rajin gitu.”
“He, itu itu Audra!” Yanti menyoel-nyoel Tari. Paan sih! Kalau kamu suka dia jangan kayak gini dong! Alah yang suka aku apa kowe, Ihiir!! Yanti menyindir sobatnya itu.
Tapi dengan kelucuan sahabatnya itu, akhirnya Tari dapat tersenyum yang sejak kemarin ia terus menangis dan bersedih karena bapaknya itu menampar bundanya yang tak sengaja mengingatkan bapaknya untuk tidak merokok dan pulang malam. Yan, aku tuh udah putus dengannya! Tari menyela sobatnya denan menahan ketawa sebab melihat wajah Yanti yang berekspresi kayak “Aming” komedian itu.
Tentu saja Tari nggak akan mengatakan ke Yanti kalau ia sedang sedih dan menangisi takdirnya. Batas bercerita tetap ada. Dan Tari tak ingin sobatnya itu bersedih lantaran kehidupannya yang menyedihkan.
Dan siang itu meskipun Tari mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia, tapi pikirannya masih melayang kemana-mana. Seandainya Audra masih menjadi kekasihku! pasti masalahku akan reda dengan adanya dirinya. Huh malangnya nasibku. Eiiiiihh!! Teriakannya membuat sekelas gaduh dan kaget. Ini berawal dari Bejo yang menepuk bahu Tari.
“Tar, hihihihi, ngelamun aja, kesambet lo entar!” Bejo pura-pura tak ngerti kesalahannya. Padahal gara-gara dia Tari dipanggil ke depan oleh Bu Tartik, guru paling killer di sekolah.
“Tari! Maju ke depan.”
“Oh, My God!”
“Bilang apa kamu tadi ?”
“Ndak Bu, ndak!”
Semua teman Tari tertawa sambil menahan ketawa karena tak ingin Bu Tartik mendengar ketawa mereka, namun tidak dengan Yanti dan Audra. Mereka terlihat sedang berpikir sesuatu.
“Ono opo ya ma Tari ?”
“Iya ya, ada apa dengan Tari, apa gara-gara aku ?”
Teman sebangku Yanti dan yang tak lain adalah Audra mencetuskan kata-kata seperti itu. Dan membuat Yanti terkejut dan berpikir apa sebenarnya mereka berdua masih saling suka.
Tapi…………
Di lain posisi, Bu Tartik memarahi Tari abis-abisan.
“Tariiiii, kamu itu! Kalau kamu tidak ingin mengikuti pelajaran saya. Kamu jangan menganggu pelajaran Ibu!” muka Tari yang memerah membuat dirinya tampak habis makan 100 cabe merah keriting yang biasa dilihatnya di dapur ketika ia memasak dengan bundanya.
Tet tet tet tet tet tet…………
Untung penderitaan Tari berhenti juga, bel sekolah yang memengakkan telinga itu menyelamatkan hidupnya hari ini. Tak hanya Tari, teman-temannya juga terselamatkan. Karena mereka ingin sekali tak mengikuti pelajaran ini. Tapi begitu melihat Bu Tartik, akhirnya mereka mengikutinya.
“Duduk kamu! Ketua kelas pimpin doa!”
“Iya Bu.” Tari dan ketua kelasnya menyahut bersama. Setelah Bu Tartik keluar dari kelas, Yanti dengan tas merah stroberinya itu langsung menyambar Tari. Tar kowe kenapa?
“Iya, kamu kenapa ?”
Oh My God, Audra! Tari yang semula cemberut langsung bersinar-sinar ketika Audra menghampiri dan perhatian kepadanya.
“Aku nggak apa-apa kok Dra! Aku cuma cuma……..”
“Cuma ngelamunin kamu Dra.” Bejo menyela perkataan Tari namun Yanti membela sobatnya.
“Bejo! kowe ojo ngono.”
“Nggak nggak, aku lagi pusing aja, kamu nggak pulang Dra ?” Tari mengalihkan suasana dan itu berhasil.
“Ya uda, aku pulang dulu ya.” Audra melirik Tari dengan senyumnya yang bisa membuat Tari mabuk kepayang. Bejo pun mengikutinya dari belakang.
“Tar, kowe bener-bener pusing ta ?”
“Ehmm, nggak sih, aku tadi lagi mikirin Audra tapi gara-gara Bejo tukang usil itu, aku jadi dicereweti Bu Tartik deh.”
“Ooo, emang kowe tuh!”
“Eeemang!!!” Tari menggoda sobatnya itu dan merangkulnya agar Yanti segera pulang dengannya. Lalu mereka harus masih menunggu kendaraan warna biru berlabelkan “AMG”(Arjosari-Gadang) itu.
Jam 7 malam …………
Bapak sedang menonton TV dan bapak memanggil Tari. Tak biasanya bapak mau bicara dengan Tari. Tari, sini!Bapak mau ngomong. Besok akan ada keluarga teman Bapak yang mau melamarmu, jadi besok kamu harus langsung pulang setelah jam sekolah selesai.
“Tapi Pak, saya masih sekolah, masak mau dilamar.”
“Kamu bisa tunangan dulu dan setelah lulus dari kuliah, kamu baru menikah dengannya!”
Bapak tidak mau mendengar alasan apapun dari Tari. Jika Bapak sudah bicara A, maka Tari harus mengikutinya. Tari tak tahu harus bagaimana, tak harus berbuat apa. Tari bingung! Tari harus bagaimana ya Allah ? Bunda mengetuk pintu kamar Tari dan setelah bunda masuk, mereka terlibat dalam pembicaraan.
“Sabar ya anakku, Bunda selalu disini menemanimu.” Mereka menangis berdua. Keesokan harinya Tari tak masuk sekolah karena untuk masuk, ia terlalu capek. Capek menangis semalaman. Ini merupakan takdir atau hanya kebetulan saja, Audra juga tak masuk. Entah apa alasannya. Di sebuah rumah di jalan araya itu, ada perbincangan antar keluarga.
“Papa, Audra tak mau dijodohkan!”
“Nak, dia baik buat kamu! Terserah alasan kamu apa, yang penting sekarang kamu siap-siap untuk sore nanti!”
“Pa!!!”
Jam di kamar Tari sudah menunjukkan pukul 15.00 dan sebentar lagi ia akan dilamar. Bun! Aku nggak mau pake kebaya ini, ia melempar kebaya berwarna putih jika dipakenya akan pas di badannya yang ramping itu. Bunda, aku mau dengan perjodohan ini hanya karena agar Bunda tak disakiti Bapak! Tari memperjelas alasannya kepada Bundanya. Mendadak sebuah sedan hijau masuk pelan ke halaman rumah Tari dan berhenti tepat di depan teras. Bapak menyambut keluarga itu. Namun ada yang aneh, anak laki-laki dari keluarga itu terlihat murung dan malas sama seperti Tari. Selamat datang! Silahkan masuk. Bapak mempersilahkan mereka masuk.
Dibantu dengan bunda, ia segera memakai sepatu highheels warna putih mengkilat itu dengan buru-buru. Meskipun terpaksa, Tari akhirnya keluar dan menemui keluarga pelamarnya.
Ketika Tari bertatap muka dengan anak laki-laki berjas hitam dengan kerah terbuka yang terlihat tampan saat itu, ia serasa mau pingsan di tempat. Apa kamu?kamu?? Tari terheran dengannya.
“Ya benar, aku Audra!” Dia memang Audra, mantanku. Oh, takdir macam apakah ini? Secara reflek, Tari langsung memeluk Audra dan ……………
“Tar,Aku sayang kamu!”
“Aku juga Dra, aku sayang kamu!”
Langganan:
Postingan (Atom)